Back to Top

MENYEIMBANGKAN ANTARA ‘TELL’ DAN ‘SHOW’ DALAM CERITA

Halo, Author, kita berjumpa lagi.

Desember buat saya adalah bulan yang sibuk, selain persiapan untuk Natal kemarin, juga karena ini adalah akhir tahun.

Tidak terasa, ya, sebentar lagi 2019 akan berakhir. Omong-omong, bagaimana resume kalian tahun ini? Oh, tunggu, sebelum menjawab, saya beri sedikit sontekan.

Paparkan ringkasan kejadian dengan teknik telling dan tunjukkan kejadian-kejadian yang ingin kamu highlight dengan teknik showing.

Sebagai penulis, kamu pasti sudah tidak asing dengan teknik ‘telling’ dan ‘showing’.

Sesuai namanya, ‘tell’ yang berarti memberitahukan atau memaparkan, teknik ‘telling’ adalah cara penulis menyajikan cerita dengan memberitahukan atau memaparkan kepada pembaca apa-apa saja yang terjadi. Ibaratnya seminar satu arah, penulis adalah pembicara yang memberikan materi di depan ruangan, sedangkan pembaca adalah peserta seminar yang duduk mendengarkan. Oh, ya, teknik ‘telling’ berbeda dari storytelling. Yang pertama adalah penyajian cerita dengan cara memaparkan, sedangkan storytelling adalah cara bercerita atau disebut juga cara bertutur, gaya bercerita.

Kebalikan dari ‘telling’, teknik ‘showing’ sesuai namanya cenderung menunjukkan kepada pembaca detail-detail yang terjadi di dalam cerita. Bukan cuma kejadian, tetapi juga mencakup penggambaran ekspresi tokoh, suasana, tempat, dan lain sebagainya. Teknik ini ibaratnya sebuah pertunjukan empat dimensi, pembaca atau audiens diajak masuk ke dunia rekaan penulis sehingga turut merasa seolah-olah berada di dunia tersebut atau mengalami sendiri kejadian yang ada.

“Show, don’t tell!”

Sejalan dengan pembicaraan mengenai teknik ‘telling’ dan ‘showing’, kamu juga pasti tidak asing dengan kalimat di atas. Bahkan, kalimat tersebut memiliki laman tersendiri di Wikipedia, lho! Kalimat itu seperti mantra, membuat penulis terus teringat untuk menuturkan cerita mereka secara ‘showing’ dan seolah-olah melarang penggunaan teknik ‘telling’.

Tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya tepat. Cerita yang memakai terlalu banyak ‘tell’ memang bisa membosankan, tetapi terlalu banyak ‘show’ juga tidak bagus. Pernahkah kamu membaca suatu cerita dan merasa pace cerita sangat lambat atau penceritaan yang terlalu detail hingga terkesan bertele-tele? Itu kemungkinan karena penulis terlalu banyak menggunakan ‘show’. (Tonton review menarik tentang buku yang penggambarannya terlalu detail hingga terkesan bertele-tele: https://you.tube/L0tMTuyAkJ4 )

James Scott Bell, seorang bestselling author and writing instructor, mengatakan dalam Exception of the Rule, “Sometimes a writer tells as a shortcut, to move quickly to the meaty part of the story or scene. Showing is essentially about making scenes vivid. If you try to do it constantly, the parts that are supposed to stand out won’t, and your readers will get exhausted.”

James Scott Bell menjelaskan bahwa terkadang seorang penulis menggunakan teknik ‘telling’ sebagai jalan pintas untuk bergerak cepat ke inti cerita atau adegan. Teknik ‘showing’ pada dasarnya untuk menghidupkan adegan. Namun, jika terlalu banyak ‘showing’, bagian yang seharusnya menonjol jadi tidak menonjol dan pembaca akan kelelahan.

Lalu, bagaimana?

Solusinya adalah dengan menyeimbangkan antara ‘tell’ dan ‘show’. Caranya? Itu, ada di sontekan yang saya berikan di atas tadi.

Paparkan ringkasan kejadian dengan teknik telling dan tunjukkan kejadian-kejadian yang ingin kamu highlight dengan teknik showing.

Laurie Alberts dalam bukunya, Showing and Telling, menjelaskan bahwa showing membuat adegan hidup, sedangkan telling menciptakan ringkasan penting. Lain waktu kita bahas lebih mendalam tentang buku tersebut. Saya jamin, isinya sangat menarik dan bermanfaat.

Seorang teman di komunitas menulis yang sama dengan saya juga menulis di blognya, Pojok Hazuki tentang cara menyeimbangkan antara ‘tell’ dan ‘show’ dalam cerita, yaitu:

1. Gunakan teknik ‘telling’ untuk eksposisi dan atau untuk mempercepat pace cerita;

2. Kurangi kata-kata filler saat menggunakan teknik ‘showing’ agar kalimat lebih ringkas dan tidak terkesan bertele-tele;

3. Campurkan antara ‘telling’ dan ‘showing’ untuk menciptakan efek naik-turun pada emosi pembaca.

Penjelasan selengkapnya mengenai poin-poin di atas bisa kamu baca di sini.

Masih menyambung pada poin ketiga di atas, Laurie Alberts menjelaskan juga tentang mengombinasikan ringkasan yang menggunakan teknik ‘telling’ dan adegan yang menggunakan teknik ‘showing’. Antara lain: menambahkan ringkasan sebelum adegan untuk menyiapkan adegan yang akan berlangsung, menyisipkan ringkasan di tengah-tengah adegan yang sedang berlangsung, serta menyisipkan adegan di tengah-tengah ringkasan. Gunanya untuk apa? Pertama untuk mengatur pace cerita, memberikan efek kejut kepada pembaca, dan atau membangun emosi pembaca.

Berikut ini saya coba memberikan contoh cerita berdasarkan tulisan Laurie Alberts tentang mengombinasikan ringkasan dan adegan. Catatan: warna hijau untuk ringkasan dan warna putih untuk adegan.


Contoh ringkasan untuk menyiapkan adegan:

Daniel tidak pernah tahu apa yang ada dalam benak Marie. Gadis itu seperti memiliki dunianya sendiri. Terkadang dia hanya duduk seharian di teras dengan mata yang entah melihat apa, terkadang dia terkikik-kikik sendiri hanya karena melihat barisan semut, atau awan yang bergulung-gulung di langit. Terkadang, Marie marah tanpa sebab yang jelas. Dan, jika sudah begitu, akan sulit membuatnya kembali tenang.

“Hei.” Daniel mendekati Marie yang sedang termangu di kisi jendela. Gadis itu melihat ke luar jendela dengan mata sedih. Alisnya mengerut seperti sedang memikirkan sesuatu. “Kau baik-baik saja?”

Marie tidak menoleh, juga tidak menjawab. Setetes air mata meninggalkan ujung matanya dan meliuk turun di pipinya.

“Marie,” panggil Daniel, menyentuh pundak Marie.


> Contoh ringkasan di tengah-tengah adegan:

Silvia membelalakkan mata saat melihat sebuah cincin di atas kue cokelat yang baru saja disajikan pelayan. Tangannya bergerak menutupi mulut. Dalam sekejap, matanya berkaca-kaca.

“Kevin, ini… ini…?” Silvia tak mampu berkata-kata.

Kevin tersenyum. Dia selalu tahu Silvia menyukai kejutan-kejutan manis. Mereka sudah lama berhubungan dan Kevin tak ingin menunda-nunda lagi. Dia sudah menyiapkan hari ini, tepat saat perayaan kebersamaan mereka yang ketiga tahun.

“Ya,” ujarnya, mengambil cincin itu dan mengulurkan kepada Silvia. “Maukah kau menikah denganku?”

“Ya, ya!” Silvia menjawab dengan cepat. Senyum lebar menghiasi wajahnya. “Astaga, Kevin, ya, aku mau menikah denganmu,” ujarnya, menangis bahagia.


> Contoh adegan di tengah-tengah ringkasan:

Ketika dia pertama kali bertemu dengan Albert, Theo tidak percaya dia akan bisa berteman baik dengan Albert. Albert adalah orang yang baik hati dan ramah, dia selalu tersenyum dan terlihat tanpa beban. Sebaliknya, Theo seorang penyendiri yang kikuk jika berhubungan dengan orang lain. Saat dia pertama kali memasuki kamarnya di asrama, senyum Albert menyambutnya.

“Hai, apa kau teman sekamarku?” tanya Albert saat itu. “Aku Albert, siapa namamu?”

“Um…, Theo.” Theo menjawab kikuk.

Senyum Albert melebar. “Senang bertemu denganmu, Theo. Itu tempat tidurmu, dan….” Albert terus bercerita. Tentang sekolah asalnya, rumahnya, teman-temannya di sekolah lama, kesukaannya, bahkan rahasianya tentang menaruh bubuk lada di meja guru bahasa Inggris-nya sehingga wanita malang itu bersin-bersin sepanjang jam pelajaran.

Oh, ya, satu lagi cara menyeimbangkan antara ‘tell’ dan ‘show’ dalam cerita: “Tell feeling, show emotion.”

Mengapa? Sebab, feeling adalah sesuatu yang dipahami dan merupakan hasil dari pancaindra. Sedangkan, emosi lebih abstrak, tidak bisa dikendalikan kapan dia datang dan bagaimana dia pergi. Kamu merasa lelah, itu feeling, akibat dari melakukan hal yang membuat lelah. Kamu sedih, itu emosi, luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat, yang bisa datang kapan saja sebagai reaksi psikologis dan fisiologis atas suatu hal.

Menunjukkan emosi tokoh dengan teknik ‘showing’ dapat mendekatkan pembaca dengan tokoh, untuk memahami bagaimana si tokoh ini bereaksi terhadap suatu kejadian. Namun, jika teknik ‘showing’ digunakan untuk menuliskan secara detail gerak-gerik tokoh misalnya betapa kelopak matanya terasa berat, badannya terasa lemas, kakiknya yang sulit digerakkan…, hasilnya justru membuat cerita seolah-olah berjalan di tempat, bertele-tele hanya untuk menjelaskan bahwa si tokoh lelah.

Oke, begitulah tips menyeimbangkan antara ‘tell’ dan ‘show’ dalam cerita. Semoga artikel ini bermanfaat untukmu, Great Author!

Selamat Natal 2019 untuk yang merayakan dan selamat menyongsong tahun baru 2020!

Share

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.