Back to Top

TOKOH DAN PENOKOHAN DALAM KARYA FIKSI

Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas tentang unsur-unsur dalam fiksi yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Salah satu unsur intrinsik dalam karya sastra ialah tokoh dan penokohan.

Seperti sudah saya jelaskan pada artikel sebelumnya, tokoh ialah pelaku atau individu yang mengalami berbagai peristiwa dalam karya sastra, sedangkan penokohan ialah proses, cara, penciptaan citra/karakter tokoh dalam karya sastra. Dengan kata lain, tokoh adalah orangnya dan penokohan adalah pemberian sifat/watak/karakter terhadap orang tersebut.

Berdasarkan peranan dan tingkat kepentingan, ada tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama ialah peran utama dalam cerita fiksi, ia adalah orang yang tindakan-tindakannya atau pilihan-pilihannya paling memengaruhi jalan cerita. Oleh karena itu, tokoh ini memiliki peranan penting dalam cerita dan paling ditonjolkan. Sedangkan, tokoh tambahan ialah tokoh-tokoh lain selain tokoh utama dan berkaitan dengan tokoh utama. Termasuk tokoh tambahan misalnya orang tua tokoh utama, temannya, guru, tukang ojek yang ditemui tokoh utama, dan lain-lain.

Berdasarkan perwatakan, ada tokoh bulat dan tokoh datar. Dalam KBBI, tokoh bulat ialah tokoh dalam karya susastra yang diuraikan segi-segi wataknya sehingga dapat dibedakan dari tokoh yang lain. Sedangkan, tokoh datar atau disebut juga tokoh pipih ialah tokoh dalam karya susastra yang hanya diungkapkan satu segi wataknya, tidak dikembangkan secara maksimal, dan apa yang dilakukan atau dikatakannya tidak menimbulkan kejutan pada pembaca. Contoh tokoh datar misalnya seorang tokoh yang hanya diceritakan bahwa dia “baik”, tanpa dieksplorasi lebih dalam kehidupan si tokoh tersebut.

Berdasarkan fungsi penampilannya, ada protagonis, antagonis, dan tritagonis. Protagonis ialah tokoh utama dalam cerita fiksi, sedangkan antagonis ialah penentang atau lawan dari tokoh utama. Apakah protagonis selalu baik? Jawabnya, tidak. Protagonis mungkin saja seorang antihero atau twisted hero. Light Yagami ialah protagonis dalam Death Note, meskipun “kebaikan” dan “dunia ideal tanpa kejahatan” yang dia percayai berbeda dari yang kebanyakan orang percayai. Sebaliknya, L berperan merupakan antagonis atau lawan dari Light Yagami. Sedangkan, tritagonis ialah tokoh penengah yang bukan antagonis dan bukan protagonis. Dalam Death Note, tritagonisnya antara lain ayah Light Yagami sendiri yaitu Soichiro Yagami dan Touta Matsuda, polisi muda yang tergabung dalam tim investigasi Kira. Mereka sekaligus menjadi penghubung antara Kira alias Light Yagami dan L, seorang detektif yang bekerja sama dengan Badan Kepolisian Nasional Jepang.

Sementara itu, dalam penggambaran wataknya, ada metode analitik dan metode dramatik, atau campuran dari keduanya. Metode analitik atau analisis ialah metode penokohan atau penggambaran watak tokoh oleh pengarang yang dilakukan secara langsung. Penokohan analitik secara gampang dituliskan secara telling oleh penulis. Misalnya, Rina adalah gadis lima belas tahun yang cantik, baik hati, dan selalu berkata jujur. Sedangkan, metode dramatik atau dramatis ialah metode penokohan atau penggambaran watak tokoh oleh pengarang secara tersurat atau tidak langsung. Penggambaran cara ini bisa melalu dialog antartokoh, penggambaran perilaku tokoh, komentar tokoh lain terhadap tokoh tertentu, dan sebagainya. Secara gampang, penokohan dramatik menggunakan teknik showing dalam bercerita. (Selengkapnya BACA: Menyeimbangkan Telling dan Showing dalam Bercerita) Jika yang telah kita bahas di atas berkaitan dengan “hasil jadi” tokoh dan penokohan, lain waktu kita bahas tentang pembentukan tokoh dan penokohan. Stay tune, yeah?! 😀

Share

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.