Back to Top

UNSUR-UNSUR DALAM FIKSI

Great Authors,

Beberapa waktu lalu kita sudah membahas tentang elemen-elemen penting dalam novel termasuk konflik dan macam-macam jenis konflik yang ada dalam sebuah cerita. Untuk melengkapinya, kali ini saya akan bagikan unsur-unsur dalam fiksi. Jika kamu lupa, fiksi dalam KBBI kategori sastra, dijabarkan sebagai cerita rekaan yang bentuknya bisa roman, novel, dan sebagainya. Sedangkan, Oxford Learner’s Dictionaries mendefinisikannya sebagai jenis sastra yang menggambarkan orang dan peristiwa imajiner, bukan yang nyata.

Dalam fiksi, ada dua unsur pokok yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Sesuai namanya, unsur intrinsik ialah unsur pembangun karya sastra yang berasal dari dalam karya sastra itu sendiri. Sebaliknya, unsur ekstrinsik ialah pembangun karya sastra yang berasal dari luar karya itu tetapi memengaruhi bangunan karya tersebut. Dari dalam yang bagaimana? Dan, apa saja pengaruh luar yang bisa memengaruhi? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita bahas satu per satu.

Unsur Ekstrinsik

Jika biasanya pembahasan tentang unsur-unsur dalam fiksi diawali dari unsur intrinsik, saya mengawalinya dari unsur ekstrinsik. Mengapa? Sebab, inilah fondasi atau dasar yang membuat sebuah karya terbentuk. Kok, bisa? Ya, karena dalam unsur ekstrinsik ini termasuk pengarang, orang yang menciptakan sebuah karya sastra. Gampangnya, jika kamu ingin menulis sebuah fiksi entah itu cerpen atau novel atau novela, tentu kamu menulisnya sesuai dengan apa yang kamu kuasai. Atau, paling tidak, kamu memahami apa yang hendak kamu tulis. Pandangan-pandanganmu juga tentu akan berpengaruh dalam penulisan karya tersebut. Lalu, apa saja yang termasuk unsur ekstrinsik ini?

  1. Latar Belakang Pengarang

Termasuk di antara latar belakang pengarang ialah biografi pengarang dari lahir hingga dewasa, pengalaman-pengalaman yang pernah dialami, pandangan hidup pribadi pengarang, kondisi psikologis, serta aliran sastra yang dianut. Aliran sastra ini nantinya akan memengaruhi gaya bahasa, yang merupakan salah satu unsur instrinsik fiksi. Sedangkan, pandangan hidup serta kondisi psikologis pengarang mungkin saja memengaruhi pembentukan tokoh, yang sekali lagi, merupakan bagian dari unsur instrinsik.

  • Latar Belakang Kepengarangan

Latar belakang kepengarangan merupakan tujuan dari dibuatnya sebuah karangan atau tulisan. Ini bisa saja berkaitan dengan pengalaman yang dialami pengarang, juga pesan-pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui tulisannya. Tujuan penulisan ini pada akhirnya berhubungan dengan amanat, satu lagi bagian dari unsur intrinsik cerita.

  • Latar Belakang Sosial/Masyarakat

Tak bisa dimungkiri, sebagai makhluk sosial, tiap-tiap diri kita pasti sedikit banyak terpengaruh oleh lingkungan sosial tempat kita tumbuh atau tinggal. Begitu pun dengan karya fiksi. Sebuah karya fiksi yang dalam penulisannya terpengaruh oleh latar belakang si pengarang, juga akan terpengaruh oleh latar belakang sosial si pengarang. Misalnya, situasi yang sedang berkembang atau terjadi di lingkungan sekitar tempat tinggal penulis, nilai-nilai sosial yang ada di sana, ideologi, pengaruh politik, serta budaya yang ada. Latar belakang sosial/masyarakat ini akan memengaruhi karangan misalnya dari segi lokasi cerita serta budaya-budaya yang berkembang dalam masyarakat yang ada dalam cerita dan, pada akhirnya, berhubungan juga dengan unsur intrinsik cerita yaitu penokohan dan setting.

Menakjubkan, bukan? Bagaimana unsur ekstrinsik—yang sering kita lupakan pada saat menulis cerita—ternyata memiliki pengaruh besar terhadap tulisan kita. Sesuai pengertiannya, unsur ekstrinsik merupakan unsur pembangun karya sastra yang berasal dari luar karya itu tetapi memengaruhi pembentukan karya tersebut.

Mungkin, kamu bertanya-tanya, bagaimana bisa hal yang memiliki pengaruh sebesar ini justru sering dilupakan? Nah, ini opini saya, tetapi bisa saja alasannya karena unsur ekstrinsik ini sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, sehingga ketika menulis otomatis akan memengaruhi tulisan kita, tanpa kita sadari. Saya tidak akan mungkir, saya sendiri cenderung fokus mempelajari unsur intrinsik fiksi ketimbang merisaukan unsur ekstrinsiknya. Hehehe….

Unsur Intrinsik

Pada pembahasan mengenai unsur ekstrinsik di atas, secara menakjubkan kita menemukan keterkaitannya dengan unsur intrinsik yang notabene merupakan unsur pembentuk karya sastra dari dalam. Kamu mungkin sudah familier dengan hal-hal yang termasuk di dalam unsur intrinsik ini. Saya hanya akan mengulangi.

  1. Tema

Tema merupakan pokok pikiran atau gagasan utama yang melandasi cerita. Penting bagi penulis untuk menentukan tema sebelum mulai menulis cerita, sebab tanpa tema cerita akan grambyang alias tidak tentu arahnya. Ada dua jenis tema yaitu tema mayor yang merupakan tema utama yang menjadi dasar umum suatu karya dan tema minor yang merupakan tema sampingan dan tidak menonjol. Misalnya, dalam sebuah cerita bertema “pentingnya persahabatan”, ada sisi percintaan tetapi tidak dieksplorasi lebih jauh sebab yang dikedepankan adalah sisi persahabatannya. Di sini, eksplorasi mengenai persahabatan tersebut merupakan tema mayornya, sedangkan sisi percintaannya merupakan tema minor.

  • Tokoh dan Penokohan

Tokoh ialah pelaku atau individu yang mengalami berbagai peristiwa dalam karya sastra, sedangkan penokohan ialah proses, cara, penciptaan citra/karakter tokoh dalam karya sastra. Dengan kata lain, tokoh adalah orangnya dan penokohan adalah pemberian sifat/watak/karakter terhadap orang tersebut. Berdasarkan peranan dan tingkat kepentingan, ada tokoh utama dan tokoh tambahan. Berdasarkan perwatakan, ada tokoh bulat dan tokoh datar. Sedangkan, berdasarkan fungsi penampilan, ada protagonis, antagonis, dan tritagonis. Di samping itu, dalam penggambaran wataknya ada cara analitik dan dramatik, atau campuran dari keduanya. (Selengkapnya BACA: Tokoh dan Penokohan dalam Karya Fiksi)

  • Alur/Plot

KBBI. Alur ialah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan saksama dan menggerakkan jalan cerita melalui kerumitan ke arah klimaks dan penyelesaian. Alur juga bermakna jalinan peristiwa dalam karya sastra untuk mencapai efek tertentu (pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal atau waktu dan oleh hubungan kausal atau sebab-akibat). Sedangkan, plot ialah jalan (alur) cerita (dalam novel, sandiwara, dan sebagainya). Plot juga merupakan perjalanan cerita dari awal, tengah, dan akhir. Sesungguhnya, alur merupakan bahasa Indonesia dari plot dalam bahasa Inggris. Namun, dalam KBBI baik alur maupun plot memiliki lema sendiri. Sebab, meski terlihat serupa, sebenarnya alur tidak sama dengan plot. (Selangkapnya BACA: Alur/Plot dalam Karya Fiksi)

  • Latar/Setting

Pengertian latar dalam KBBI ialah keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra. Apa itu lakuan? Ialah deretan peristiwa nyata atau fiksi yang membangun sebagian alur dramatik. Berdasarkan pengertian tersebut, kita dapatkan tiga jenis latar, yaitu:

  1. Waktu

Waktu di sini menjawab pertanyaan “kapan” sebuah peristiwa dalam karya sastra terjadi. Termasuk di dalamnya jam, hari, hingga tahun. Atau, waktu yang ditandai dengan keadaan alam seperti malam, pagi, musim semi, musim hujan, dan sebagainya.

  • Ruang

Ruang meliputi lokasi terjadinya peristiwa, baik nyata maupun imajiner. Ini menjawab pertanyaan “di mana” suatu peristiwa terjadi dan meliputi rumah, jalan, negeri, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan “tempat” terjadinya peristiwa.

  • Suasana

Suasana atau disebut juga atmosfer ialah keadaan yang meliputi suatu peristiwa, entah itu di sekitarnya atau di dalam lingkungannya. Ini berkaitan dengan kondisi latar secara keseluruhan serta emosi/perasaan/aura yang timbul sebagai hasil dari penyajian cerita oleh penulis.

  • Sudut Pandang Penceritaan

Sudut pandang penceritaan atau point of view yang kerap disebut POV saja ialah cara pengarang memosisikan dirinya dalam menceritakan sebuah kisah, atau cara pandang pengarang dalam menyampaikan cerita. Secara umum ada tiga jenis POV: orang pertama, orang kedua, orang ketiga. Disebut juga POV 1, POV 2, dan POV 3. POV 1 dipecah menjadi orang pertama pelaku utama dan orang pertama pelaku sampingan. POV 3 dipecah menjadi sudut pandang objektif, objektif yang dimodifikasi, serbatahu, dan terbatas. (Selengkapnya BACA: Macam-Macam Sudut Pandang atau POV dalam Cerita)

  • Penuturan Cerita/Gaya Bahasa

Penuturan cerita atau story telling kaitannya dengan cara penulis menuturkan sebuah cerita serta gaya bahasa yang digunakan oleh penulis. Gaya bahasa ini berkaitan erat dengan aliran sastra serta ciri khas penulis dalam menggambarkan idea tau gagasannya ke dalam sebuah cerita. Termasuk di dalam ini adalah majas dan diksi yang digunakan penulis.

  • Amanat

Akhirnya, last but not least, adalah pesan/kesan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca melalui tulisannya. Amanat terbagi menjadi tersurat dan tersirat. Sesuai namanya, amanat yang tersurat ialah amanat yang pesannya disampaikan secara langsung (melalui narasi atau dialog tokoh) sehingga bisa dicerna seketika. Sedangkan, amanat tersirat ialah amanat yang disampaikan secara tersembunyi (melalui gerak-gerik tokoh, pilihan-pilihan tokoh, atau keseluruhan isi cerita) sehingga dalam memahaminya pembaca perlu berkontemplasi agar dapat menyimpulkan makna yang ingin disampaikan oleh penulis.

Nah, Authors, itulah tadi pembahasan kita tentang unsur-unsur dalam fiksi. Such a long post, eh? 😀

Sampai jumpa pada artikel berikutnya!

Share

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.